Jumat, 23 Desember 2011

Asuhan Keperawatan Pada Sistem Perkemihan Infeksi Saluran Kemih



A.      PENGERTIAN
 Infeksi Saluran Kemih (ISK) bisa mengenai pria dan wanita.  ISK atau Urinarius Tractus Infection (UTI) disebutkan bahwa suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih (Tessy, 2001). Infeksi Saluran Kemih (ISK) ditandai adanya infeksi bakteri pada saluran kemih (Enggram, 1998).

B.       KLASIFIKASI
Klasifikasi infeksi saluran kemih sebagai berikut :
1.    Kandung kemih (sistitis)
2.    Uretra (uretritis)
3.    Prostat (prostatitis)
4.    Ginjal (pielonefritis)
Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut, dibedakan menjadi:
1.    ISK uncomplicated (simple).
ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic maupun fungsional normal. ISK ini pada usi lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.
2.    ISK complicated.
Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis dan shock. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagi berikut:
a.         Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap dan prostatitis.
b.         Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK.
c.         Gangguan daya tahan tubuh
d.       Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp yang memproduksi urease.

C.      ETIOLOGI
1.                Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain:
a.         Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated
b.         Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple)
c.         Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan-lain-lain.
2.    Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain:
a.         Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif
b.         Mobilitas menurun
c.         Nutrisi yang sering kurang baik
d.        Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral
e.         Adanya hambatan pada aliran urin
f.          Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

D.      PATOFISIOLOGI
       Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, imfogen. Ada dua jalur utama terjadinya ISK yaitu asending dan hematogen.
1.    Secara asending yaitu:
a.         Masuknya mikroorganisme dalm kandung kemih, antara lain: factor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, factor tekanan urine saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi.
b.         Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal.
2.    Secara hematogen yaitu: Sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen. Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu: adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan parut, dan lain-lain.

Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya:
1.    Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau kurang efektif.
2.    Mobilitas menurun
3.    Nutrisi yang sering kurang baik
4.    System imunnitas yng menurun
5.    Adanya hambatan pada saluran urin
6.    Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat.
        Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensii yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar ke suluruh traktus urinarius. Selain itu, beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK, antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah: jaringan parut ginjal, batu, neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun.

E.       TANDA DAN GEJALA
1.    Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah adalah :
a.         Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih
b.         Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis
c.         Hematuria
d.        Nyeri punggung dapat terjadi
2.    Tanda dan gejala ISK bagian atas adalah :
a.         Demam
b.         Menggigil
c.         Nyeri panggul dan pinggang
d.        Nyeri ketika berkemih
e.         Malaise
f.          Pusing
g.         Mual dan muntah

F.       PEMERIKSAAN PENUNJANG
             1.    Urinalisis
a.       Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih
b.       Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.
2.    Bakteriologis
a.         Mikroskopis
b.         Biakan bakteri
3.    Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik
4.    Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.
5.    Metode tes
a.    Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.
b.         Tes Penyakit Menular Seksua (PMS).
Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek).

c.         Tes-tes tambahan.
Urogram intravena (IVU), Pielografi (IVP), msistografi dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.

G.      PENATALAKSANAAN
  Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhadap flora fekal dan vagina.
Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan atas:
1.    Terapi antibiotika dosis tunggal
2.    Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari
3.    Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu
4.    Terapi dosis rendah untuk supresi
Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi, factor kausatif (mis: batu, abses), jika muncul salah satu, harus segera ditangani. Setelah penanganan dan sterilisasi urin, terapi preventif dosis rendah.
Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin), trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ, bactrim, septra), kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan, tetapi E. Coli telah resisten terhadap bakteri ini. Pyridium, suatu analgesic urinarius jug adapt digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi.
Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkinan adanya:
1.    Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan
2.    Interansi obat
3.    Efek samping obat
4.    Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal.

Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya dengan faal ginjal:
1.    Efek nefrotosik obat
2.    Efek toksisitas obat

Asuhan Keperawatan pada Sistem Perkemihan  dengan Infeksi Saluran Kemih (ISK)
A.      PENGKAJIAN
1.    Pemerikasaan fisik: dilakukan secara head to toe
2.    Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko:
a.         Adakah riwayat infeksi sebelumnya?
b.         Adakah riwayat obstruksi pada saluran kemih?
3.    Adanya faktor predisposisi pasien terhadap infeksi nosokomial
a.         Bagaimana dengan pemasangan folley kateter ?
b.         Imobilisasi dalam waktu yang lama ?
c.         Apakah terjadi inkontinensia urine?
4.    Pengkajian dari manifestasi klinik infeksi saluran kemih
a.         Bagaimana pola berkemih pasien? untuk mendeteksi factor predisposisi terjadinya ISK pasien (dorongan, frekuensi, dan jumlah)
b.         Adakah disuria?
c.         Adakah urgensi?
d.        Adakah hesitancy?
e.         Adakah bau urine yang menyengat?
f.          Bagaimana haluaran volume orine, warna (keabu-abuan) dan konsentrasi urine?
g.         Adakah nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih bagian bawah ?
h.         Adakah nyesi pangggul atau pinggang-biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas ?
i.           Peningkatan suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas.
5.    Pengkajian psikologi pasien:
a.         Bagaimana perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan yang telah dilakukan?
b.         Adakakan perasaan malu atau takut kekambuhan terhadap penyakitnya.

B.       DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL
1.    Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain.
2.    Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.
3.    Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.

C.      INTERVENSI
1.    Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih dan struktur traktus urinarius lain.
Kriteria Hasil :
·           Nyeri berkurang / hilang saat dan sesudah berkemih
Intervensi:
·           Pantau perubahan warna urin, pantau pola berkemih, masukan dan keluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang.
Rasional: untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
·           Catat lokasi, lamanya intensitas skala (1-10 nyeri.
Rasional: membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan penyebab nyeri
·           Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan.
Rasional: meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot.
·           Berikan perawatan perineal.
Rasional: untuk mencegah kontaminasi uretra
·           Jika di pasang kateter, perawatan kateter 2 kali perhari.
Rasional: Kateter memberikan jalan bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan.
·           Alihkan perhatian padahal yang menyenangkan.
Rasional : relaksasi, menghindari terlalu merasakan nyeri.

2.    Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain.
KriteriaHasil:
Pola eliminasi membaik, tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi, oliguri, disuria)
Intervensi:
·           Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristik urin.
Rasional: memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi
·           Dorong meningkatkan pemasukan cairan.
Rasional: peningkatan hidrasi membilas bakteri.
·           Kaji keluhan pada kandung kemih.
Rasional: retensi urin dapat terjadi menyebabkan distensi jaringan (kandung kemih/ginjal)
·           Observasi perubahan tingkat kesadaran.
Rasional: akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi toksik pada susunan saraf pusat
·           Kolaborasi:
o    Awasi pemeriksaan laboratorium: elektrolit, BUN, kreatinin.
Rasional: pengawasan terhadap disfungsi ginjal
o    Lakukan tindakan untuk memelihara asam urin: tingkatkan masukan sari buah berri dan berikan obat-obat untuk meningkatkan aliran urin.
Rasional: aliran urin menghalangi tumbuhnya kuman. Peningkatan masukan sari buah dapt berpengaruh dalm pengobatan infeksi saluran kemih.
3.    Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi.
Kriteria Hasil :
Menyatakan mengerti tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, rencana pengobatan, dan tindakan perawatan diri preventif.



Intervensi:
·           Berikan waktu kepada pasien untuk menanyakan apa yang tidak di ketahui tentang penyakitnya.
Rasional : Mengetahui sejauh mana ketidak tahuan pasien tentang penyakitnya.
·           Kaji ulang proses penyakit dan harapan yang akan datang
Rasional: memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan beradasarkan informasi.
·           Berikan informasi tentang: sumber infeksi, tindakan untuk mencegah penyebaran, jelaskan pemberian antibiotik, pemeriksaan diagnostik: tujuan, gambaran singkat, persiapan ynag dibutuhkan sebelum pemeriksaan, perawatan sesudah pemeriksaan.
Rasional: pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan membantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencan terapetik.
·           Anjurkan pasien untuk menggunakan obat yang diberikan, minum sebanyak kurang lebih delapan gelas perhari.
Rasional: Pasien sering menghentikan obat mereka, jika tanda-tanda penyakit mereda. Cairan menolong membilas ginjal.
·           Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan masalah tentang rencana pengobatan.
Rasional: Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhan dan membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik.



DAFTAR PUSTAKA
1.      Doenges, M. E. 1999. Rencana asuhan keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Alih Bahasa: I Made Kariasa, Ni made Sumarwati. Edisi: 3. Jakrta: EGC.
2.      Enggram, B. 1998. Rencana asuhan keperawatan. Jakarta: EGC
3.      Nugroho, W. 2000. Keperawatan gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC
4.      Parsudi, I. A. 1999. Geriatri (ilmu kesehatan usia lanjut). Jakarta: FKUI
5.      Price, S. A. 1995. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit: pathophysiologi clinical concept of disease processes. Alih Bahasa: Peter Anugrah. Edisi: 4. Jakarta: EGC
6.      Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku ajar keperawatan medikal-bedah. Brunner & Suddart. Alih Bhasa: Agung Waluyo. Edisi: 8. Jakarta: EGC.
7.      Sessy A., & Ardaya, S. 2001. Buku ajar ilmu penyakit dalam: Infeksi saluran kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI.

Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...