Rabu, 21 Desember 2011

Pedoman Pembelajaran Blok Asuhan Keperawatan Sistem Persyarafan


PEDOMAN PEMBELAJARARAN BLOK VII
ASUHAN KEPERAWATAN SISTEM PERSARAFAN

Program Studi           : S1 Keperawatan.
Kode Mata Kuliah     :
Nama Mata Kuliah   : Blok Sistem Persarafan
Jumlah SKS               : 2 SKS ( 1 SKS Teori ) dan 1 ( SKS ) Tutorial, Skill Lab, Kunjungan 
                                      Lapangan
TK / Semester            :
Jumlah Pertemuan    : 1   X  14  X 1            =  14 jam
                                         1   X  14  X 3            =  42 jam
Tutorial                      :   2 x 2                          =  4 jam
Alokasi Waktu           : 56  jam.


I.                   INTRODUKSI

Blok sistem persarafan membahas tentang review anatomi dan fisiologi sistem persarafan, identifikasi data, pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik, dan pengelolaan kasus pada klien dengan gangguan sistem persarafan.dalam upaya untuk memelihara homeostatis, tubuh selalu mengadakan reaksi penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi disekitar atau di dalam tubuh sendiri. Susunan saraf dan endokrin merupakan dua sistem regulasi utama tubuh yang bekerja secara terpadu dan berkesinambungan untuk memelihara homeostatis. Respon tubuh yang cepat terhadap suatu stimulus diregulasi oleh susunan saraf, dimana semua stimulus yang diterima akan segera dihantarkan secara cepat antar sel dan jaringan melalui impuls elektrik dan senyawa kimia (neurotransmitter). Stimulus yang terjadi karena perubahan lingkunagan akan disalurkan melalui saraf ke sumsum tulang belakang dan otak, kemudian akan mengalami proses integrasi, analisa, kombinasi, komparasi, kordinasi, dan akan dihantarkan kembali melalui saraf ke otot dan kelenjar tubuh. Pengaruh gangguan  proses persarafan dapat mengakibatkan gangguan pada system lain  pada semua tingkat usia perkembangan.

II.                STANDAR KOMPETENSI
Standar kompetensi dalam blok persarafan secara umum adalah sebagai berikut
a.    Mahasiswa diharapkan dapat menerapkan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan persarafan pada segala tingkat usia dengan menggunakan langkah-langkah proses keperawatan
b.    Melakukan riset ( study literatur) keperawatan sederhana pada pasien dengan gangguan persarafan pada segala tingkat usia

III.             KOMPETENSI DASAR
Dalam mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi pada blok sistem persarafan disini mahasiswa dituntut untuk dapat mencapai target kompetensi diberbagai tingkat usia perkembangan manusia dengan berbagai permasalahanya. Untuk lebih jelasnya diuraikan dibawah ini:
1.      Mahasiswa dapat menjelaskan mengenai perkembangan anatomi sistem persarafan dari perkembangan sel janin sampai dengan proses degeneratif pada lanjut usia
2.      Mahasiswa dapat menjelaskan mengenai fungsi fisiologis kerja sistem persarafan secara normal dan bila terjadi gangguan patologis
3.      Mahasiswa dapat menggambarkan mekanisme fisika yang terjadi pada kerja sistem persarafan
4.      Mahasiswa dapat menjelaskan mekanisme kerja biokimia yang terjadi pada sistem persarafan
5.      Mahasiswa dapat menyusun kerangka pathway pada gangguan sistem persarafan
6.      Mahasiswa dapat menjelaskan mengenai konsep medis gangguan sistem persarafan (definisi, etiologi, manifestasi klinis, komplikasi)
7.      Mahasiswa dapat menyebutkan mekanisme kerja farmakologi (indikasi, efek samping, kontraindikasi) pada terapi pengobatan penyakit sistem persarafan
8.      Mahasiswa dapat melakukan pengkajian secara terfokus pada klien dengan gangguan sistem persarafan
9.      Mahasiswa dapat menyebutkan dan melakukan persiapan pemeriksaan laboratorium diagnostik terkait pada gangguan sistem persarafan
10.  Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan fisik terkait pada gangguan sistem persarafan
11.  Mahasiswa dapat merumuskan masalah (diagnosa keperawatan) pada klien dengan gangguan sistem persarafan
12.  Mahasiswa dapat menyusun rencana asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem persarafan
13.  Mahasiswa dapat melakukan implementasi keperawatan (kebutuhan dasar – lanjut) pada klien dengan gangguan sistem persarafan
14.  Mahasiswa dapat melakukan evaluasi pada klien dengan gangguan sistem persarafan
15.  Mahasiswa dapat melakukan pencatatan / pendokumentasian proses keperawatan pada klien dengan gangguan sistem persarafan
16.  Mahasiswa dapat melakukan penyuluhan kesehatan pada klien dengan gangguan sistem persarafan di tatanan klinik – komunitas
17.  Mahasiswa dapat melakukan tindakan kolaborasi dengan tim gizi untuk klien dengan gangguan sistem persarafan
18.  Mahasiswa dapat mengelola pasien dengan gangguan sistem persarafan
19.  Mahasiswa mampu melakukan bimbingan beribadah pada pasien dengan gangguan sistem persarafan
20.  Mahasiswa dapat melakukan riset keperawatan sederhana pada pasien dengan gangguan sistem persarafan

Semua tujuan tersebut diatas harus dapat dicapai oleh setiap mahasiswa dengan spesifikasi kasus minimal/ dasar pada pasien dengan gangguan sistem persarafan pada berbagaai tingkat usia dan dalam keadaan gawat darurat sekalipun. Adapun kompetensi kasus minimal dalam blok persarafan antara lain sebagai berikut:
NO
KOMPETENSI KASUS
KET
1
Cedera kepala
Anak, Dewasa, Lansia dan Gawat Darurat





Anak, Dewasa, Lansia dan Gawat Darurat


2
Trauma leher
3
Epilepsi
4
Hidrosefalus
5
Peradangan/ infeksi
6
Stroke
7
Gbs
8
Tetanus
9
Kejang demam
10
Parkinson
11
Alzhaimer
12
Cereberal palsy

IV.             TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti berbagai kegiatan akademik pada blok ini, maka diharapkan mahasiswa :
1. Mampu melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem persarafan pada setiap tahap perkembangan.
2. Mampu mengelola klien dengan masalah / gangguan sistem persarafan pada setiap tahap perkembangan.
3. Mampu memberikan penyuluhan / pendidikan kesehatan pada klien dengan gangguan sistem  persarafan pada setiap tahap perkembangan.
4. Mampu menganalisa perubahan yang terjadi pada klien yang mengalami gangguan/perubahan sistem persarafan pada setiap tahap perkembangan.
5. Mampu memberikan asuhan keperawatan pada keluarga di masyarakat dengan memperhatikan etik dan nilai-nilai social budaya serta keyakinan klien  melalui komunikasi yang efektif dan terapeutik
6. Mampu melakukan riset keperawatan sederhana pada pasien dengan gangguan sistem persarafan


 V.                BAHAN KAJIAN SISTEM PERSYARAFAN
Bahan Kajian
Janin
Neonatus
Bayi-Anak
Dewasa
Lansia

Anatomi
Pembentukan sistem persarafan
Perkembangan sistem persarafan
Perkembangan sistem persarafan
Struktur normal
sistem persarafan
Degenerasi sistem persarafan

Fisiologi


Mekanisme kerja sistem persarafan
Mekanisme kerja sistem persarafan
Mekanisme kerja sistem persarafan
Mekanisme kerja sistem persarafan

Biologi
Konsepsi
Perkembangan sistem persarafan






Fisika






Biokimia






Patologi
Anencepalitis
Kejang demam
Hidrocepalus
Epilepsi
Meningitis
Ensefalitis
Polio
Stroke
Tetanus
Tumor otak
Cedera kepala
Cedera medula spinalis
Gillain Bare Sindrom
Mielopati

Farmakologi










Terapi rehabilitasi

KMB



Askep Stroke
Tetanus
Tumor otak
Guillain Bare Sindrom
Askep Mielopati

Anak
Askep Anencepalitis
Askep  Kejang demam
Askep Epilepsi, Meningitis, Ensefalitis, Polio



Gadar



Cedera kepala
Cedera medula spinalis
Gagal nafas


Gizi


Diit









KDM
Nyeri

Aman
Mobilisasi
Seksual
Komunikasi


Oksigenasi
Tidur istirahat

Cairan elektrolit










PDK
Health Education Persarafan
Penyuluhan persarafan






VI.   KEGIATAN UNTUK MENCAPAI KOMPETENSI
       Kegiatan blok ini terdiri dari diskusi tutorial, kuliah, diskusi, skill practice dan kunjungan dan kegiatan lapangan (rumah sakit) dengan penugasan. Sebelum kegiatan tersebut dilakukan, mahasiswa diminta membuat kontrak belajar yang berisi tanggung jawab dalam kedisiplinan, berperilaku dan penyelesaian tugas-tugas tertentu. Untuk lebih detailnya kegiatan-kegiatan selama blok ini akan dijelaskan sebagai berikut :
1.   Kuliah
Kuliah diberikan  sesuai dengan jadwal dengan total jam 3 minggu sebesar 14 jam tatap muka. Tujuan kuliah adalah untuk memberikan dasar pemahaman atau konsep ilmu tertentu yang sangat penting dalam membantu mahasiswa memahami masalah atau skenario. Kuliah ini diberikan oleh pakar di bidangnya masing-masing sesuai dengan topik kuliah dalam rangka mendukung pencapaian kompetensi dalam blok.
2.   Diskusi Tutorial
Kegiatan diskusi tutorial merupakan kegiatan utama dalam pembelajaran metode problem based learning. Dalam kegiatan diskusi tutorial mahasiswa dihadapkan pada masalah yang terkait dengan blok. Masalah tersebut ditampilkan dalam skenario yang mengangkat kasus tertentu. Kegiatan diskusi dilakukan seminggu tiga kali. Pertemuan pertama hanya melakukan brainstorming untuk mengidentifikasi istilah atau key word dan menetapkan masalah serta membagi tugas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan atau memahami masalah. Pada pertemuan kedua diskusi mahasiswa mulai menyampaikan pendapat dan melontarkan jawaban berdasarkan referensi sesuai dengan tugasnya. Pertemuan terakhir mahasiswa menyelesaikan pertanyaan yang belum terjawab sekaligus melakukan pendalaman dan critical appraisal.
3.   Jigsaw
Tujuan dilakukan jigsaw agar mahasiswa mampu menyampaikan suatu materi secara jelas dan menjawab pertanyaan yang diajukan, sehingga mahasiswa akan terbiasa menyampaikan dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pasien atau keluarganya secara ilmiah dan akurat.
4.   Skill Practice
Kegiatan skill practice/ latihan ketrampilan bertujuan untuk memberikan berbagai ketrampilan yang relevan dengan tema blok. Ketrampilan tersebut sangat diperlukan nantinya dalam menjalankan perannya di pelayanan keperawatan/ masyarakat kelak baik sebagai tenaga kesehatan maupun anggota masyarakat. Dalam blok sistem persarafan  akan diberikan beberapa latihan ketrampilan seperti komunikasi efektif dalam memberikan informasi, membuat keputusan kolaborasi dan kerjasama dengan sejawat.
5.    Kunjungan  Lapangan
Tujuan kunjungan  lapangan blok sistem persarafan adalah untuk mengetahui secara nyata bagaimana pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem persarafan.
6.    Riset/penelitian sederhana
Riset sederhana berbasic studi pustaka/studi literatur merupakan kompetensi dasar untuk mempersiapkan mahasiswa dalam melakukan riset keperawatan di tingkat selanjutnya. Riset sederhana juga dapat menjadi dasar evidence based practise bagi perawat dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem persarafan.
7.    Kegiatan  Lapangan
Kegiatan lapangan blok sistem persarafan dilakukan selama 3 hari pada minggu ketiga. Tujuan kegiatan ini adalah untuk membekali mahasiswa dengan nilai-nilai islam yang sesuai dengan profesi ners. Kegiatan lapangan dilakukan dengan berbagai bentuk kegiatan :
o  Kultum dan sholat berjamaah
o  Study mandiri

VII.      TUGAS DAN KEWAJIBAN MAHASISWA
     Dalam proses diskusi tutorial mahasiswa memegang peran utama. Dalam PBL mahasiswa ditempatkan sebagai individu yang tahu kebutuhan belajarnya sehingga mereka harus bisa memanfaatkan sumber belajar dengan baik seperti buku, internet, pasien, dosen dan jurnal. Metode PBL  menerapkan konsep student center learning dimana mahasiswa sebagai subyek pendidikan harus aktif dalam belajar mandiri secara individu dan kelompok dalam memahami masalah atau skenario. Mahasiswa tidak terbatas hanya mendapatkan materi ilmu pengetahuan dari dosen. Dosen hanya menjadi salah satu sumber belajar dari sekian banyak sumber belajar yang tersedia. Mahasiswa harus dituntut aktif untuk membaca dan mengakses informasi sesuai dengan tujuan belajar dalam blok untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Dengan adanya skenario yang berisi masalah dalam praktek ners diharapkan akan mendorong mahasiswa untuk menelusuri referensi sebanyak mungkin sehingga bisa mengembangkan pengetahuan mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa juga dituntut untuk selalu antusias dalam membaca buku referensi dan mampu memotivasi diri untuk selalu belajar.

     Langkah-langkah yang harus ditempuh oleh seorang mahasiswa untuk menunjang keberhasilan diskusi tutorial adalah sebagai berikut :
1.        Membaca dan memahami tujuan blok ini.
2.     Membaca dan memahami scenario yang sudah diberikan dengan cermat, sehingga mampu menentukan prioritas masalah yang dihadapi
3.        Menetapkan prioritas masalah yang dihadapi
4.  Mengemukakan pendapat sebanyak-banyaknya tentang kemungkinan penyebab masalah tersebut dan mencari jalan keluarnya
5.        Mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut
6.        Membuat simpulan tentang apa yang didiskusikan
7.        Selalu melakukan re-check atas hasil diskusi dengan referensi
8.        Aktif dan terampil dalam mengemukakan pendapat dan gagasan
9.        Mengerjakan tugas blok dan dimumpulkan  yang diberikan tutor untuk pengayaan materi
a.Minggu I
b.    Minggu II
c.Minggu III
d.   Minggu IV
10.    Memasukan hasil belajar kedalam blog masing-masing

VIII.          TUTOR
                  Dalam kegiatan diskusi tutorial, tutor berperan sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran mahasiswa. Tutor tidak harus seorang ahli mengenai masalah yang dibahas dalam diskusi akan tetapi tutor berperan dalam memandu mahasiswa untuk mencapai tujuan belajar. Interaksi tutor dan mahasiswa harus berjalan intensif yang diperlukan dalam menciptakan dinamika kelompok yang baik.
                  Tutor perlu membekali diri dengan beberapa hal penting demi kelancaran diskusi dan tercapainya kelompok yang efektif,  antara lain :
1.              Dasar-dasar pendidikan secara teori atau praktek
2.              Memahami dinamika kelompok
3.              Memahami penilaian belajar, baik dasar penilaian, metode penilaian atau evaluasi
4.              Memahami sumber belajar dan cara mengakses informasi dengan cepat dan tepat
5.              Ketrampilan manajerial

IX. SEVEN JUMPS
          Untuk melaksanakan Problem Based Learning, ada 7 langkah (seven jumps) yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu :
1.        Identifikasi dan klarifikasi istilah dalam skenario.
2.        Menetapkan masalah.
3.        Masalah adalah hal apapun dalam skenario dan yang berkaitan, yang dituangkan dalam bentuk pertanyaan, pernyataan atau hipotesis.
4.         Menganalisis masalah      (merinci dan menjelaskan masalah dengan brainstorming berdasar prior  knowledge)
5.        Mengorganisir penjelasan masalah secara skematik (mind mapping, flowchart, dll bukan narasi)
6.        Menetapkan tujuan belajar
7.         Belajar mandiri untuk mencapai tujuan belajar berdasar sumber informasi
8.        Memaparkan, membahas, dan menata kembali informasi yang diperoleh melalui forum diskusi studi mandiri, dan tutorial, serta di seminar kelas.

X. EVALUASI DAN SISTEM PENILAIAN
                  Sistem penilaian dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi oleh mahasiswa selama mengikuti proses pembelajaran. Aspek yang dinilai meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Sistem penilaian bersifat proporsional artinya penilaian pencapaian kompetensi oleh mahasiswa dalam satu kegiatan pembelajaran sesuai dengan prosentase distribusi tujuan pembelajaran blok dalam tiap kegiatan blok. Penghitungan nilai akhir blok dilakukan secara digital dengan program komputer dengan soft ware yang khusus dibuat untuk format penilaian

XI. KOMPONEN PENILAIAN
             Nilai yang diperoleh mahasiswa berupa nilai blok (untuk bidang yang berkaitan dengan keperawatan) dan nilai mata kuliah (Keperawata anak, keperawatan dewasa, keperawatan lansia, keperawatan gadar dan pendidikan kesehatan). Nilai blok diperoleh setelah mahasiswa menyelesaikan seluruh kegiatan pembelajaran dalam blok tertentu.
Komponen penilaian blok persarafan adalah sebagai berikut :
           Nilai yang diperoleh mahasiswa berupa nilai blok (untuk bidang yang berkaitan dengan keperawatan) dan nilai mata kuliah. Nilai blok diperoleh setelah mahasiswa menyelesaikan seluruh kegiatan pembelajaran dalam blok tertentu. Komponen nilai blok adalah sebagai berikut :
1.        Berasal dari kuliah terutama untuk soal-soal ujian, diskusi kelompok, praktikum, kegiatan pengenalan klinik atau penugasan.
2.        Jumlah soal dari masing-masing materi tersebut berdasarkan prosentase distribusi tujuan pembelajaran blok ke dalam kegiatan blok.
3.                                Penanggung jawab : Tim Blok
4.                                Rumusan penilaian dapat dijabarkan sebagai berikut :
a.  Nilai Tutorial
-                                    Persentase                               : 10 % dari blok
-                                    Kehadiran tutorial  75 % sebagai syarat untuk penilaian tutorial
-                                     Kehadiran kurang dari 75% mahasiswa tidak mendapatkan nilai tutorial
-                                    Penilaian dilakukan selama proses diskusi yang dibimbing oleh tutor
-                                    Penanggung jawab                  : Tutor
b.    Nilai Paper/ Tugas Individu                       :
-             Persentase                               : 10 % dari blok
-             Penanggung jawab                  :  Tutor
c.    Nilai Seminar/Kelompok   
-             Persentase                               :  10 % dari blok.
-             Penanggung jawab                  :  Dosen pembimbing
d.   Nilai Kegiatan Lapangan (Sholat Berjama’ah).
-             Persentase                               : 10 % dari nilai blok
-             Penanggung jawab                  : Tutor
e.    Ujian Responsi
-             Persentase                               : 15 %
-             Syarat kehadiran mahasiswa 75% .
-             Jumlah soal 6 kasus                 : 6 kasus  sistem persyarafan
-             Materi soal dari kuliah dan diskusi tutorial.
-             Penanggung Jawab                 : Tutor
f.     Ujian Kognitif
-            Persentase                                : 20 %
-            Ujian 2 minggu sekali             
-            Penanggung Jawab                  : Pemateri
g.    Ujian Skill Lab / Osca
-              Persentase                           : 25 %
-              Ujian di akhir Blok
-              Penanggung jawab              : Team
Formula Penilaian :

Nilai = NTt x 10% + NT x 10% + NS x 10% + NL x 10 % + NR x 15 % + NUT x 20 % x NUL x 25 %


Jika mahasiswa tidak dapat mengikuti kegiatan blok dengan sempurna, tidak ada proses mengulang  kegiatan tersebut di tahun yang sama.
Nilai akhir yang dicapai mahasiswa setelah menempuh semua kegiatan blok ditetapkan berdasarkan standar yang berlaku di perguruan tinggi, yaitu :
 Klasifikasi nilai akhir adalah :
No
Nilai
Lamb
Mutu
No

Lamb
Mutu
1
 80 - 100
A
4
5
60 -64
C
2
2
 75 - 79
B+
3.5
6
55 - 59
D+
1.5
3
70 - 74
B
3
7
50 - 54
D
1
4
65 - 69
C+
2.5
8
< 50
E
0

XII. RESOURCES PERSON

NO
NAMA
HP
PJ
1.
Herniyatun,S.Kp,M.Kep,Sp.Mat
02875521822
Supervisor
2.
Safrudin Agus N,S.Ke,Ns
081328641777
Supervisor
3.
Dadi Santosa, S.Kep,Ns
081327973555
Ko. Blok
4.
Isma Yuniar,S.Kep,Ns
081328401089
Anak
5.
Ning Iswati,S.Kep,Ns
08156912174
 PDK
6.
Cahyu Septiwi,S.Kep,Ns
08156262540
KMB
7
Dadi Santosa, S.Kep,Ns
08122824315
Lansia
8
Podo Yuwono, S.Kep,Ns
08886661131
Gadar

XII. FASILITATOR / TUTOR GROUP
1. Group   I                    : Bambang Utoyo, S.Kep.Ns
2. Group   II                   : Podo Yuwono,S.Kep,Ns
3. Group   III                 : Tri Sumarsih,S.Kep,Ns
4. Group   IV                 : Dadi Santoso,S.Kep,Ns
5. Group   V                   : Ning Iswati, S.Kep.Ns
6. Group   VI                 : Rina Saraswati,S.Kep,Ns

  
XIII. FASILITATOR LAB SKILL
1.                Group I, II                : Retno Kusumaningtyas,S.Kep,Ns
2.                Group III,IV             : Retno Nugroho,S.Kep,Ns
3.                Group V, VI             : Wuri S,Kep,Ns




REFERENSI

Betz, Cecily L dan Sowden, Linda L. 2002.Keperawatan Pediatrik, Edisi 3,EGC : Jakart

Mansjoer Arif, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2, Media Aesculapius : Jakarta
Rauf , Syarifuddin, 2002, Catatan Kuliah Nefrologi Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FK UH : Makssar

Smeltzer, Suzanne C, 2001, Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, edisi 8, Volume 2, EGC : Jakarta

Long, B.C. Essential of medical – surgical nursing : A nursing process approach. Alih bahasa : Yayasan IAPK. Bandung: IAPK Padjajaran; 1996 (Buku asli diterbitkan tahun 1989)

Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. Brunner and Suddarth’s textbook of medical–surgical nursing. 8th Edition. Alih bahasa : Waluyo, A. Jakarta: EGC; 2000 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)

Reeves, C.J., Roux, G., Lockhart, R. Medical – surgical nursing. Alih bahasa : Setyono, J. Jakarta: Salemba Medika; 2001 (Buku asli diterbitkan tahun 1999)

Corwin, E.J. Handbook of pathophysiology. Alih bahasa : Pendit, B.U. Jakarta: EGC; 2001 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)

Price, S.A. & Wilson, L.M. Pathophysiology: Clinical concept of disease processes. 4th Edition. Alih bahasa : Anugerah, P. Jakarta: EGC; 1994 (Buku asli diterbitkan tahun 1992)

Doengoes, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C. Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patients care. Alih bahasa: Kariasa,I.M. Jakarta: EGC; 2000 (Buku asli diterbitkan tahun 1993)

Suyono, S, et al. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2001

Reeves, C.J., Roux, G., Lockhart, R. Medical – surgical nursing. Alih bahasa : Setyono, J. Jakarta: Salemba Medika; 2001(Buku asli diterbitkan 2001 )

Nyeri punggung bawah akibat Kerja dengan duduk yang lama


Saya pernah mengalami nyeri pinggang bawah bagian belakang. Nyeri saya rasakan berbulan-bulan dan sangat menggangu aktifitas saya. Ternyata masalah kesehatan saya ini sungguh menakjubkan secara real? Ternyata, sekitar 60 persen orang dewasa mengalami nyeri pinggang bawah karena masalah duduk. Suatu penelitian di sebuah rumah sakit menunjukkan bahwa pekerjaan dengan duduk lama (separuh hari kerja) dapat menyebabkan hernia nukleus pulposus, yaitu saraf tulang belakang “terjepit” di antara kedua ruas tulang belakang sehingga menyebabkan selain nyeri pinggang juga rasa kesemutan yang menjalar ke tungkai sampai ke kaki. Bahkan, bila parah, dapat menyebabkan kelumpuhan.
Mengapa duduk lama dapat menyebabkan nyeri pinggang bawah? Duduk lama dengan posisi yang salah akan menyebabkan otot-otot pinggang menjadi tegang dan dapat merusak jaringan lunak sekitarnya. Dan, bila ini berlanjut terus, akan menyebabkan penekanan pada bantalan saraf tulang belakang yang mengakibatkan hernia nukleus pulposus. Bila tekanan pada bantalan saraf pada orang yang berdiri dianggap 100 persen, maka orang yang duduk tegak dapat menyebabkan tekanan pada bantalan saraf tersebut sebesar 140 persen. Tekanan ini menjadi lebih besar lagi 190 persen bila ia duduk dengan badan membungkuk ke depan. Namun, orang yang duduk tegak lebih cepat letih karena otot-otot punggungnya lebih tegang. Sementara orang yang duduk membungkuk kerja otot lebih ringan, namun tekanan pada bantalan saraf lebih besar.
Setelah duduk selama 15-20 menit, otot-otot punggung biasanya mulai letih. Maka, mulai dirasakan nyeri pinggang bawah. Penelitian terhadap murid sekolah di Skandinavia menemukan 41,6 persen yang menderita nyeri pinggang bawah selama duduk di kelas, terdiri dari 30 persen yang duduk selama satu jam, dan 70 persen yang duduk lebih dari satu jam.
Bila merasakan nyeri pinggang bawah, hal pertama yang perlu dilakukan adalah berdiri. Berelaksasi setiap 20-30 menit sangat penting untuk mencegah ketegangan otot. Berdiri dan meluruskan pinggang bawah beberapa kali sangat menolong. Jalan-jalan satu jam sekali juga sangat menolong mengurangi ketegangan otot.
Hal-hal yang harus dihindari selama duduk supaya tidak terjadi nyeri pinggang bawah antara lain jangan duduk pada kursi yang terlalu tinggi, duduk dengan membengkokkan pinggang, atau duduk tanpa sandaran di pinggang bawah (pendukung lumbal). Selain itu, selama duduk perlu menghindari duduk dengan mencondongkan kepala ke depan karena dapat menyebabkan gangguan pada leher, duduk dengan lengan terangkat karena dapat menyebabkan nyeri pada bahu dan leher, serta duduk tanpa sokongan lengan bawah karena dapat menyebabkan nyeri pada bahu dan pinggang.
Bagaimanakah duduk yang benar? Sebaiknya duduk dengan punggung lurus dan bahu berada di belakang serta bokong menyentuh belakang kursi. Seluruh lengkung tulang belakang harus terdapat selama duduk. Caranya, duduklah di ujung kursi dan bungkukkan badan seolah terbentuk huruf C. Setelah itu, tegakkan badan buatlah lengkungan tubuh sebisa mungkin. Tahan untuk beberapa detik kemudian lepaskan posisi tersebut secara ringan (sekitar 10 derajat). Posisi duduk seperti inilah yang terbaik. Duduklah dengan lutut tetap setinggi atau sedikit lebih tinggi panggul (gunakan penyangga kaki bila perlu) dan sebaiknya kedua tungkai tidak saling menyilang. Jaga agar kedua kaki tidak menggantung. Hindari duduk dengan posisi yang sama lebih dari 20-30 menit.
Selama duduk, istirahatkan siku dan lengan pada kursi atau meja, jaga bahu tetap rileks. Bila duduk dengan kursi beroda dan berputar, jangan memutarkan pinggang selama duduk, sebaiknya putarkan seluruh tubuh. Bila berdiri dari posisi duduk, usahakan berdiri dengan meluruskan kedua tungkai. Hindari membungkukkan badan ke depan pinggang, segera luruskan punggung dengan melakukan 10 kali gerakan membungkukkan badan selama berdiri.
Selain tindakan pencegahan tersebut di atas, yang terpenting adalah perlu adanya program kegiatan olahraga senam untuk mengurangi maupun mencegah nyeri pinggang bawah pada setiap pekerja sebelum memulai hari kerjanya. Di samping itu, hal penting lain yang tidak boleh dilupakan adalah desain kursi yang ergonomis. Perusahaan LA Times mengurangi kerugian jutaan dollar AS akibat nyeri pinggang bawah, leher, bahu, dan pergelangan tangan di antara pekerjaan sebesar 50 persen, dengan memperbaiki sistem ergonomi (antara lain desain kursi yang sesuai dan sikap duduk) dan sering istirahat.
Sikap duduk yang benar adalah pertama duduk dengan sikap membungkuk ekstrem. Kemudian setelah beberapa detik, secara perlahan tegakkan punggung dan lengkungkan. (Jangan mempertahankan terlalu lama posisi ini karena dapat menyebabkan ketegangan otot punggung). Kemudian, relaksakan lengkung lumbal sekitar 10 persen agar sikap tubuh benar. Bekerjalah dengan sikap seperti ini selama duduk.
Sumber: http://www.depkes.go.id (oleh Dr. Diana Samara – Jakarta, Kompas 11 Agustus 200)

Kamis, 15 Desember 2011

Resiko Kanker Payudara meninkat karena makan roti tawar?


REPUBLIKA.CO.ID, SAN DIEGO - Makan roti tawar dan kentang dapat meningkatkan risiko tumbuhnya kanker payudara. Demikian dikatakan ilmuwan dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Universitas California, San Diego.
Sebuah studi menemukan bahwa orang yang mengikuti diet kaya pati (amilum) lebih beresiko terkena tumor dibandingkan mereka yang jarang mengkonsumsi pati. Para peneliti belum dapat menjelaskan kecenderungan ini. Namun, mereka berasumsi bahwa peningkatan tingkat insulin yang dipicu ‘karbohidrat olahan’seperti pati itu bisa merangsang pertumbuhan sel kanker.
Peneliti mempelajari pola makan dari 2.651 penderita kanker payudara selama 12 bulan. Mereka menemukan bahwa orang yang sering makan pati memiliki 14,2 persen resiko kanker payudara. Tingkat resiko ini lebih tinggi dibandingkan yang jarang mengkonsumsi pati, yaitu sekitar 9,7 persen.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa bukan hanya karbohidrat secara keseluruhan (yang berpotensi tingkatkan resiko kanker), tetapi terutama pati,” kata peneliti Universitas California, Jennifer Emond. Penelitian belum dapat memberikan rekomendasi untuk pola makan yang baik guna mencegah kanker ini.
Pada awalnya, asupan karbohidrat perempuan adalah 233 gram per hari. Peneliti mengamati pola makan wanita yang di tahun berikutnya mengalami kambuh penyakit. Perempuan yang penyakitnya kambuh itu umumnya menambah asupan pati sebanyak 2.3 gram per hari pada tahun pertama. Sementara itu, penderita yang tidak mengalami kambuh umumnya mengurangi asupan pati 2,7 gram setiap harinya.
Kanker payudara adalah kanker paling umum di Inggris. Penyakit ini diderita sekitar 46.000 wanita setiap tahun. Karbohidrat adalah bahan bakar yang paling penting untuk otot dan sumber energi penting untuk otak dan sistem saraf pusat. Karbohidrat olahan seperti roti mengandung pati lebih banyak dibandingkan dari biji-bijian (seperti beras).
CEO Kampanye Kanker Payudara, Baroness Delyth Morgan, mengapresiasi temuan ini. "Studi ini menunjukkan bahwa mengurangi konsumsi pati mungkin bisa mengurangi risiko kambuhnya kanker payudara. Kita menunggu penelitian lebih lanjut tentang masalah ini,” ujar dia. 

Rabu, 30 November 2011

Hamil adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa, Bagaimana menunyusui saat Hamil?y


Memberikan yang terbaik untuk anak adalah impian setiap orang tua, termasuk dalam memberikan makanan. Dan kita tahu bersama bahwa ASI akan tetap memberikan zat-zat yang baik bahkan sampai anak berusia dua tahun atau lebih, sesuai rekomendasi Badan Kesehatan Dunia, serta telah disebutkan juga di dalam al Quran sebelum WHO. Ketika ada suatu keadaan yang mungkin berpengaruh atau memiliki dampak terhadap proses menyusui, atau justru jika kita tidak tahu efek keadaan tersebut, tentu kita merasa khawatir.
Masa menyusui yang berbarengan dengan masa kehamilan anak berikutnya, adalah contoh salah satu keadaan yang sering menimbulkan kekhawatiran ini. Sehingga kemudian seringkali timbul pertanyaan, bisakah saya menyusui sewaktu hamil? Secara umum,jawaban dari pertanyaan ini adalah YA, seorang ibu tetap dapat menyusui anaknya meskipun sedang hamil anak yang berikutnya. 
Begitu mendengar jawaban ini, pasti langsung muncul beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan janin;


1. Khawatir keguguran
Proses menyusui melibatkan hormon oksitosin yang akan menyebabkan kontraksi pada payudara dan rahim. Namun tingkat kontraksi dari hormon oksitosin ini tidak memiliki dampak yang terlalu besar pada rahim selama hamil, tidak sampai pada tingkatan bisa menyebabkan kelahiran bayi, kecuali jika waktu melahirkan sudah mendekati harinya atau ada hal-hal lain yang berpengaruh. Kontraksi rahim ini dapat dibandingkan dengan kontraksi yang terjadi pula pada saat berhubungan sex. Hubungan sex akan menyebabkan rahim berkontraksi, namun sex tidak serta-merta dihentikan ketika ibu sedang hamil.

2. Kebutuhan nutrisi
Asupan makanan dengan kandungan protein dan karbohidrat yang lebih tinggi dibutuhkan seorang ibu yang hamil dan menyusui, karena keadaan ini memang memerlukan tambahan tenaga. Disarankan untuk makan-makanan alami dalam pemenuhan kebutuhan ini.

3. Produksi ASI
Setelah beberapa bulan, produksi ASI biasanya akan berkurang, ini berhubungan dengan semakin meningkatnya kadar hormon estrogen di dalam tubuh, dan hal ini memang alamiah. Rasa ASI mungkin berubah, namun tidak selalu, dan bayi mungkin akan menyapih dirinya sendiri. Selama berada di dalam tubuh, ASI tidak akan pernah basi.

4. Kondisi ibu secara umum
Menyusui atau hamil saja sudah pasti akan membuat ibu merasa lelah, apalagi jika keduanya terjadi secara bersamaan. Jika seorang ibu menyusui merasa kelelahan, maka hal ini dapat mengurangi jumlah ASI yang dikeluarkannya. Jadi solusinya adalah cukup istirahat dan cukup mengonsumsi makanan bergizi, jika mungkin usahakan yang alamiah.

5. Kondisi payudara
Ketika hamil, sensitifitas pada daerah payudara meningkat, sehingga ibu akan lebih mudah merasa nyeri ketika menyusui saat hamil, dibanding jika tidak sedang hamil.

6. Bagaimana dengan kondisi saya?
Setiap orang memiliki kondisi tubuh dan kesehatan yang berbeda. Informasi yang disampaikan di sini hanya pada keadaan normal-wajar. Jika ada pertimbangan kesehatan khusus, misalnya punya riwayat keguguran yang sering, sudah lama menikah namun belum juga dikaruniai anak, kontraksi rahim berlebihan ketika menyusui, atau keadaan yang lain, sebaiknya tetap didiskusikan dengan dokter anda.
http://republika.co.id

Selasa, 29 November 2011

HIV/AIDS: Neuropsychiatric Disease


Rudolf J. Kotula, MD

Private Practice in Infectious Diseases
Methodist Hospital
, Omaha, Nebraska

Peer Review Status: Externally Peer Reviewed by Mosby

  1. General. About 60% of individuals with AIDS have some neuropsychiatric manifestations of the illness. This may be because macrophages and monocytes carry the HIV into the CNS. The virus may also gain direct access because many CNS components are CD4+. It is critical to ascertain that neurologic manifestations are not attributable to infectious causes (other than HIV) or CNS lymphoma before attributing symptoms to the direct effects of the AIDS virus. Individuals with AIDS or HIV infection are undergoing a major stress, and psychologic support is critical to the successful management of their illness. Drug therapies are helpful, but social and psychologic support is important to their overall care.
  2. Terminology. Subacute encephalitis (AIDS encephalopathy, AIDS dementia complex).
    1. Defined by progressive dementia, psychomotor retardation, focal motor abnormalities, behavioral changes, and short-term memory deficits.
    2. May manifest headache with problems of coordination, apathy, and affective blunting. Later manifestations include inappropriate behavior, emotional lability, seizures, aphasia, and psychotic manifestations.
    3. Advanced cases develop global cognitive deterioration, incontinence, sensory loss, and visual disturbances.
    4. 75% of AIDS patients manifest these symptoms, but 90% show pathologic changes on autopsy.
  3. Testing.
    1. Useful tests include the Symbol Digit Modalities Test and Parts A & B of the Trail Making Test, which test psychomotor function. A newly developed screening instrument, the HIV Dementia Scale, is a reliable and quantitative scale superior to the Minimental Status Exam and the Grooved Pegboard in identifying HIV dementia.
    2. Double-dose contrast-enhanced CT alone cannot provide a definitive diagnosis. The most common abnormality reported on CT scans of these patients is cerebral atrophy. Radiographically, MRI is best at demonstrating degeneration. The most common white matter lesions are diffuse over a wide area, typically in the centrum semiovale and periventricular white matter. Less commonly, there is localized involvement with patchy or punctate lesions.
    3. In atypical aseptic meningitis, there is an increase in the ICP and in the CSF mononuclear pleocytosis, multinucleated giant cells, protein content, and oligoclonal bands.
    4. EEG is not particularly helpful.
  4. Differential diagnosis of neuropsychiatric disorders in HIV disease once one has excluded infectious and other medical causes.
    1. Most common are affective disorders.
    2. Dementia.
      1. Responds to some degree to high doses of ARV therapy (especially AZT).
      2. Some experimental agents are being investigated to treat AIDS dementia, including nimodipine, pentoxyphylline, memantine, delavirdine and peptide-T.
        1. Do not use in patients with florid psychosis.
        2. Document changes with tests noted above.
    3. Agitation secondary to delirium may be treated by lorazepam 0.5 mg IV slow push.
    4. Treat psychotic symptoms with haloperidol 0.5 to 1 mg PO QID.
    5. Depression can be treated with standard antidepressants. Some patients respond rapidly to methylphenidate 5mg Q AM up to 20-60 mg divided TID. Patients may be sensitive to anticholinergic side effects late in HIV illness. MAO inhibitors are contraindicated.
    6. AIDS patients can get a manic syndrome related to the use of ganciclovir, zidovudine, and fluoxetine, which may respond to lithium. Treat agitation as above.
    7. Anxiety can be treated with standard drugs. See Chapter 18.
Next Page | Previous Page | Section Top | Title Page
University of Iowa Family Practice Handbook, Fourth Edition, Chapter 11

HIV/AIDS: Dermatologic Manifestations

Rudolf J. Kotula, MD
Private Practice in Infectious Diseases
Methodist Hospital
, Omaha, Nebraska

Peer Review Status: Externally Peer Reviewed by Mosby

  1. Cutaneous Infections.
    1. Viral. Herpesviruses produce disseminated, extensive, or chronic herpetic ulcers. Treat with acyclovir 400 mg PO 5 x a day or 5 mg/kg IV Q8h x 7 to 14 days if severe. Maintenance dose acyclovir 400 mg PO BID.
    2. Fungal.
      1. Dermatophytosis (tinea) by fungi of the genera Trichophyton, Microsporum, and Epidermophyton. For treatment, see Chapter 17.
      2. Yeasts and mucosal candidiasis. Treat with systemic antifungals (see section on candidiasis above).
      3. Rarely: histoplasmosis and cryptococcosis.
    3. Bacterial.
      1. Bacterial folliculitis, impetigo. For treatment, see Chapter 17.
        1. Mycobacteriosis. Treatment involves systemic antibiotics; see previous section on Mycobacterium.
        2. Bacillary angiomatosis. Treat with erythromycin 250 to 500 mg PO QID until lesions resolve or doxycycline 100 mg PO BID.
  2. Cutaneous Neoplasms
    1. Kaposi’s sarcoma. Human herpes virus-8 (HHV-8) has been implicated as the probable agent of this skin neoplasm. Clinically appear as purplish macules, papules, plaques, nodules, tumors. Histopathologic analysis reveals immunostain to type IV collagen. Therapy includes observation, cryotherapy, laser surgery, excisional surgery, radiation therapy or systemic chemotherapy. Anecdotal reports of remissions have been reported with foscarnet.
    2. Lymphoma cutis. Skin is rarely involved, usually B cell in origin.
    3. Possible increased incidence of melanoma, basal cell carcinoma, and squamous cell carcinoma
    4. Oral hairy leukoplakia. Well-demarcated verrucous plaque with an irregular, corrugated, or hairy surface, most commonly on the lateral or inferior surface of the tongue, or on the buccal and soft palatal mucosa.
  3. Inflammatory Dermatitides
    1. Seborrheic dermatitis, psoriasis, eczematous dermatitis, and folliculitis. See Chapter 17 for treatment options. Avoid the use of methotrexate.
    2. Pruritus, prurigo, eosinophilic folliculitis.
      1. Extremely common and extremely debilitating with 3 to 5 mm edematous, follicular papules, and pustules.
      2. Treatment is often unsatisfactory. Antihistamines, potent topical fluorinated corticosteroids (such as clobetasol propionate BID), photo-therapy with natural sunlight or UVB radiation.
Cutaneous eruption of HIV. Presents as erythematous non-pruritic macules soon after infection.



Sumberhttp:// www.vh.org/

HIV AIDS dan pencegahannya Bro..


Apakah HIV itu ?
HIV, yang merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus adalah Virus penyebab AIDS
  • HIV terdapat di dalam cairan tubuh seseorang yang telah terinfeksi seperti di dalam darah, air mani atau cairan vagina
  • Sebelum HIV berubah menjadi AIDS, penderitanya akan tampak sehat dalam waktu kira-kira 5 sampai 10 tahun.
  • Walaupun tampak sehat, mereka dapat menularkan HIV pada orang lain melalui hubungan seks yang tidak aman, tranfusi darah atau pemakaian jarum suntik secara bergantian.
Bagaimana HIV ditularkan ?
HIV dapat ditularkan melalui 3 cara, yaitu :
  • Hubungan seks (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
  • Transfusi darat atau penggunaan jarum suntik secara bergantian.
  • Melalui Alat Suntik.

Apa Gejala AIDS
  • Merasa kelelahan yang berkepanjangan
  • Deman dan berkeringat pada malam hari tanpa sebab yang jelas.
  • Batuk yang tidak sembuh-sembuh disertai sesak nafas yang berkepanjangan.
  • Diare/mencret terus-menerus selama 1 bulan
  • Bintik-bintik berwarna keungu-unguan yang tidak biasa
  • Berat badan menurun secara drastis lebih dari 10% tanpa alasan yang jelas dalam 1 bulan.
  • Pembesaran kelenjar secara menyeluruh di leher dan lipatan paha.
TES HIV
Orang yang terinfeksi HIV tidak dapat diketahui dari penampilan fisiknya saja karena orang tersebut terlihat seperti orang sehat lainnya. Jadi, untuk menentukan seseorang terinfeksi HIV atau tidak harus dilakukan pemeriksaan darah.
Pemeriksaan darah bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya anti bodi HIV di dalam darah. Antibodi HIV ini dihasilkan oleh tubuh sebagai reaksi system kekebalan tubuh terhadap infeksi HIV. Oleh sebab itu, pemeriksaan ini lebih tepat disebut "Tes Antibodi HIV" bukan tes AIDS.
Perlukan Tes HIV ?
Jika anda merasa memiliki kemungkinan terinfeksi HIV, maka sebaiknya segera memeriksakan diri. Hal ini penting untuk memastikan status anda. Jika anda positif, dapat segera dilakukan perawatan kesehatan lebih lanjut yang intensif agar dapat menjaga kondisi dan mencegah penularan kepada orang lain.
Apa yang tidak menularkan HIV ?
HIV tidak akan menular melaui :
  • Bersin
  • Ciuman pipi
  • Kolam renang
  • Berbagi makanan dan menggunakan alat makan bersama
  • Bergandengan tangan
  • Gigitan nyamuk

TIPS Melindungi Diri Dari HIV/AIDS

  • Jangan melakukan hubungan sesk dengan pasangan yang anda tidak ketahui kondisi kesehatannya.
  • Hindari berganti-ganti pasangan seksual.
  • Gunakanlah kondom dalam melakukan hubungan seks, jika salah satu atau keduanya terinfeksi HIV
  • Jika membutuhkan transfusi darah, mintalah kepastian bahwa darah yang akan diterima bebas HIV
  • Gunakan alat suntik sekali pakai
  • Hindari mabuk-mabukan dan narkotik yang membuat Anda lupa diri
Pencegahan Penularan HIV AIDS :
  • Menghindari hubungan seks di luar nikah
  • Pemakaian kondom pada mereka yang mempunyai pasangan HIV positif
  • Menggunakan jarum suntuk dan alat tusuk lainnya yg terjamin sterilitasnya
  • Skrining pada semua kantong donor darah
  • Wanita dengan HIV positif sebaiknya jangan/tidak hamil (untuk mencegah penularan penyakit ini kepada bayi)
  • Selalu pakai Kondom untuk kelompok dengan resiko tinggi..
  • Tidak kalah pentingnya adalah bentengi diri dengan Iman (keyakinan penuh terhadap Tuhan yang Maha ESA) bahwa semua perbuatan melakukan hubungan seksual diluar nikah adalah dosa. 

disarikan dari berbagai sumber:
http://ayahama.com
http://channel.dat.net

Jumat, 25 November 2011

Pengkajian Pada Sistem Muskuloksletal



A.     Pengkajian fisik system musculoskeletal
Pengkajian fisik sistem muskuloskeletal terdiri dari :
1.      Kemampuan dasar fungsional.
2.      Inspeksi dan palpasi.
Untuk mengetahui integritas tulang, postur, fungsi sendi, kekuatan otot, cara berjalan dan kemampuan pasien melakukan aktivitas sehari-hari.
3.      Perkusi dan auskultasi.
Perkusi dilakukan untuk mengetahui adanya cairan dalam rongga sendi dan auskultasi dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan pada vaskuler dan krepitasi.
B.      Pengkajian skelet tubuh
Skelet tubuh dapat dikaji dengan adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat tumor tulang dapat dijumpai. Pemendekan ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidan sejajar dalam kondisi anatomis harus dicatat.
Angulasi abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi menunjukkan pataha tulang. Biasanya terjadi krepitus (suara berderik ) pada titik gerakan abnormal. Gerakan fragmen tulang harus diminimalkan untuk mencegah cedera lebih lanjut.


C.      Mengkaji tulang belakang
Kurvatura normal tulang belakang konveks pada bagian dada dan konkaf pada sepanjang leher dan pinggang.
Deformitas tulang belakang meliputi : scoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang), kifosis (kenaikan kurvatura lateral tulang belakang bagian dada), lordosis ( membebek, kurvatura tulang belakang bagian pinggang yang berlebihan). Kifosis terjadi pada pasien osteoporosis pada pasien neuromuscular.
Skoliosis terjadi congenital, idiopatrik (tidak diketahui penyebabnya) atau akibat kerusakan otot paraspinal misalnya pada poliomyelitis.
Lordosis dijumpai pada penderita kehamilan karena menyesuaikan postur tubuhnya akibat perubahan pusat gaya beratnya.
Pemeriksaan kesimetrisan dilakukan dengan memeriksa kurvatura tulang belakang dan kesimetrisan batang tubuh dari pandangan anterior, posterior dan lateral. Dengan cara berdiri di belakang pasien, dan memperhatikan perbedaan tinggi bahu dan krista iliaka. Lipatan bokong normalnya simetris. Simetri bahu dan pinggul serta kelurusan tulang belakang diperiksa dengan pasien berdiri tegak,  dan membungkuk ke depan (fleksi). Skoliosis ditandai dengan  abnormal kurvatura lateral tulang belakang, bahu yang tidak sama tinggi, garis pinggang yang tidak simetri dan scapula yang yang menonjol, akan lebih jelas dengan uji membungkuk kedepan. Lansia akan mengalami kehilangan tinggi badan karena hilangnya tulang rawan dan tulang belakang.

D.     Mengkaji sistem persendian
Sistem persendian dievaluasi dengan memeriksa luas gerakan, deformitas, stabilitas dan benjolan.
Luas gerakan dievaluasi secara aktif (sendi digerakkan oleh otot sekitar sendi dan pasif dengan sendi digerakkan oleh pemeriksa). Luas gerakan normal sendi-sendi besar menurut American Academy of Orthopedic Surgeons diukur dengan goniometer (busur derajat yang dirancang khusus untuk mengevaluasi gerakan sendi). Bila suatu sendi di ekstensi maksimal namun terdapat sisa fleksi, dikatakan bahwa luas gerakan terbatas. Yang disebabkan karena deformitas skeletal, patologi sendi atau kontraktur otot dan tendo disekitarnya. Pada lansia penurunan keterbatasan gerakan yang disebabkan patologi degeneratif sendi dapat berakibat menurunnya kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Inspeksi persendian dan bandingkan secara bilateral. Harusnya didapat kesimetrisan tanpa kemerahan, pembengkakan, pembesaran / deformitas. Palpasi sendi dan tulang untuk mengetahui edema dan tenderness. Palpasi sendi selama gerakan untuk mengetahui adanya krepitasi. Sendi harusnya terasa lembut  saat bergerak dan tidak ada nodul.
Deformitas sendi disebabakan oleh kontraktur (pemendekan struktur sekitar sendi), subluksasi (lepasnya sebagian  permukaan sendi atau distrupsi struktur sekitar sendi, dislokasi (lepasnya permukaan sendi). Kelemahan atau putusnya struktur penyangga sendi dapat menakibatkan sendi terlalu lemah untuk berfungsi normal, sehinga memerlukan alat penyokong eksternal ( misalnya brace).
Jika sendi terasa nyeri periksa adanya kelebihan cairan pada kapsulnya (efusi), pembengkakan, dan peningkatan suhu, yang mencerminkan inflamasi aktif. Kita dapat mencurigai adanya effuse jika sendi mebengkak,ukurannya dan tonjolan tulangnya samar. Tempat tersering terjadi efusi adalah lutut. Bila hanya ada sedikit cairan pada rongga sendi di bawah tempurung lutut dapat diketahui dengan maneuver : aspek lateral dan medial lutut dalam dalam keadaan ekstensi dapat diurut dengan kuat kearah bawah. Gerakan tersebut akan menggerakkan cairan kearah bawah. Begitu ada tekanan dari sisi lateral dan medial pemeriksa akan melihat benjolan disisi lain dibawah tempurung lutut.

E.      Mengkaji sistem otot
Dengan memperhatikan kemampuan merubah posisi, kekuatan otot dan koordinasikan ukuran otot. Kelemahan otot menunjukkan polineuropati, gangguan elektrolit (kalsium dan kalium), miastenia grafis, poliomyelitis, distrofi otot. Dengan palpasi otot saat ekstremitas relaks digerakkan secara pasif akan terasa tonus otot. Mengkaji kekuatan otot dilakukan dengan palpasi otot dan ekstremitas yang digerakkan secara pasif dan rasakan tonus otot. Ukuran kekuatan otot dengan gradasi dan metode berikut :
0 (zero)   : Tidak ada kontraksi saat dipalpasi, paralysis.
1(trace)  : Terasa adanya kontraksi otot tetapi tidak ada gerakan.
2(poor)   : Dengan bantuan atau menyangga sendi dapat melakukan ROM secara penuh.
3(fair)     : Dapat melakukan  ROM secara penuh dengan dengan melawan gravitasi tetapi tidak dapat melawan tahanan.
4(good)   :  Dapat melakukan ROM secara penuh dan dapat melawan tahanan yang sedang.
5(normal): Gerakan ROM penuh dengan melawan gravitasi dan tahanan.
Klonus otot (kontraksi ritmik otot) dilakukan dengan dorsofleksi mendadak. Fasikulasi (kedutan kelompok otot tertentu secara involunter).
Gambar Illustrasi

F.       Mengkaji cara berjalan
Pengkajian dilakukan dengan meminta pasien berjalan dari tempat pemeriksa sampai seberapa jauh, pemeriksa memperhatikan cara berjalan, kehalusan dan irama. Gerakan yang tidak teratur dan regular ( lansia) dianggap abnormal. Bila pincang kemungkinan karena nyeri akibat menyangga beban tubuh dan dari kasus ini pasien menunjukkan lokasi rasa tidak nyaman, untuk mengarahkan pemeriksaan selanjutnya. Bila ekstremitas yang satu lebih pendek dari ekstremitas yang lain terlihat pincang saat pelvis pasien turun ke bawah, disisi yang terkena, setiap kali melangkah. Keterbatasan gerak sendi mempengaruhi cara berjalan.
Kondisi neurologis yang mengakibatkan cara berjalan abnormal misal cara berjalan spastic hemiparesis pada pasien stroke, cara berjalan selangkah-selangkah pada pasien lower motor neuron, cara berjalan bergetar pada pasien parkinson.
Gambar Ilustrasi


G.     Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Mengkaji kulit dengan menginspeksi kulit dan palpasi kulit apakah tersa dingin atau panas?, apakah ada edema?. Mengkaji sirkulasi perifer dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu,waktu pengisian kapiler. Adanya luka, memar, perubahan warna kulit, penurunan sirkulasi perifer dan adanya infeksi akan mempengaruhi penatalaksanaan keperawatan.

sumber:
Depkes RI, Asuhan Keperawatan sistem muskuloskeletal
Doenges, (2005) Rencana Asuhan Keperawatan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...